Showing posts with label sven. Show all posts
Showing posts with label sven. Show all posts

Tuesday, October 25, 2011

Apabila Si Pemalu Berjodoh dengan Si Ceria

Salaam ... selamat pagi Malaysia
Two best friends; a guy and a gal were gazing the star-filled sky while having BFF conversation; 
A :  We've been friend since ... kindergarten, right? 
B :  Yeah, guess so. Hey, what's the big idea? Hoho, you wanna 
say you've fall in love with me ... 
A :  No ... it's just that ... did you ever think that we're in LOVE? 
B :  Well, I have no experience in it; I'll say no. 
A :  Oh, okay ...
Salaam semua ... agagaga~ rasa 'hidup' bila dapat menulis semula dalam bahasa Melayu. Sehebat-hebat bahasa Inggeris, bahasa Melayu is still the best language, there is <the irony has spoken!>.

Semalam : detiknya saya ingat semua

Semalam, saya dengan Hazwan, Atai, Ardie, Rusdi <optimis>, Ewi <Sang Jurufoto>, Aizat, Azizi dan Ainul pergi ke Velodrum, mengisi perut, selepas solat `Isyak ditunaikan. Bermotor beramai-ramai, Ardie dengan yakin ndak berlesen lagi tuu menunggang motorsikal sendiri. Kalau dicilok polis, baru tau <ada sekali tuu, kereta peronda limpas. Agagaga- I'll never forget his sudden facial change :D>. Lepas sampai, Azizi berputar balik ke stesen minyak untuk me-refill tangki minyak yang kering. Kalau diketuk, berdenting. Kami pilih-pilih gerai, and ordered meals. Aktiviti semalam mengingatkan saya dengan satu cerita yang <I think cute> unik seorang kawan saya.

Mengingatkan insiden dulu

Ndak lama dulu, saya diajak keluar untuk minum bersama segerombolan kawan. Gahh. Memandangkan kebuhsanan sangat-sangat, apalagi perut mula berdondang sayang, saya turutkan permintaan. I've tried as hard as I could to not dragging my feet <orang yang kenal lama dengan saya, mesti tau yang sayalah manusia paling ndak suka keluar di dunia. My room is my world!>. Sebelum tu, maaf kalau ada unsur penipuan dan tokok-tambah yang melampau. Ianya untuk menjaga privasi watak yang terlibat. But still, it's based on a true story.

Kami duduk beramai-ramai di dalam restoran tuu, and ordered food. Kawan baik saya neh, duduk di sebelah kanan <kah?? Ndak ingat. Depan kott>. Tiba-tiba, dia kuis saya dan muncungkan mulut ke depan. Saya cari-cari, apa yang dia tunjuk. Ohh ... a girl. A girl with long shirt. Saya senyum biasa-biasa, dia <kawan saya> siap tanya, "Siapa yang bertudung hitam tuu" ... and right after he asked, he lowered his sight right onto his served food. Saya ndatau, tanya geng lain. Dorang kata, perempuan yang agak kecil tu Fastra. 

"Dia tu phodeographer, ada banyak material pasal itu," saya tambah. Si kawan neh, asyik senyum jaa, bila disebut nama tu. Saya mula buat assumption profesional; this guy's in love <profesionalkah tu?>. But anyway, it shined on his eyes;- he's up for something. Then, I looked back at the girl with a black veil who was sitting directly in opposition to my buddy. And I looked back again at him: can you imagine, sepanjang masa dia makan, tersenyum. Mau menyuap pun, dia senyum lagi.

Well, if you were in my place, there's no doubt that you can't resist the temptation of making "smart" hypothesis. When a man asks who's that someone, and ends up smiling after hearing her name, you know that he's in love. Ahahaha -- someone's in love. 

Apa yang saya rasa

If they are--by any means--be a couple, I'd say YES! YESS!! YESSS!!!. They'd be a very perfect couple. Saya sebenarnya agak rapat jugak dengan perempuan tu, kira best friend forever (BFF) jugaklaa, kami. Jadinya, saya tau minat dia, keinginan, passion dia dan sedikit latar hidup dia. And it seems that this guy and this gal have almost everything in common. 

<smiling>

Saya ndakpasti kalau buddy ni betul-betul ada 'sesuatu' dalam hatinya dengan perempuan neh. Saya doakan dan aminkan jaa. Dan kau <you know who you are>, go now; race for your love! Ahahaha <seriously, saya sangat suka happy ending>. Though it'll be EXTREMELY hard, I know you can do it. Lepas dapat tu, ta`aruf sekejap then kahwin. DO NOT POSTPONE/HESITATE!! 

I wrote it on Facebook. :)
Never expected

Serius: saya ndak pernah jangka owh, he'll fall in love. He used to be very sensitive when we're talking about love. Dia jenis yang sangat strict dalam perihal begineh and sangat berfalsafah. And truthfully speaking; I think no girl would have the chance to approach him <dia kaya, dia baik dan dia pintar. What's more to offer?>.

Jangan cuba jadi sempurna ... jadilah yang terbaik.
But then, dia jugak manusia biasa. Jatuh cinta, inter-sexually attracted jugak perkara biasa. Masa saya sedar anomali dalam perangainya, terus saya jerit dalam hati neh, "Akhirnya kau jumpa jugak jodoh kau, AHAHAHA!" <dalam hati jaalah>. I'll say, jangan salahkan dia, bila melayan fitrah and he's quite far from me now. Paling pun, boleh PM dia jaa, dari Facebook. Bercakap hadap semuka adalah suatu kemustahilan sekarang neh. Dengan kekangan yang cukup besar, yah; mustahil <kalau saya nampak macam ganjil jaa, saya bantu-bantulah dia, kan?>.

Being Something ['Khalifah: Intrinsic Values That I've Learnt' iii]

Salaam all. Sorry-lah, I have to keep on writing about this whole Khalifah program. I have promised myself to finish it, no matter what. Besides, who are you to apprehend me from doing so? <kekejaman>

Inner speech

In our materialistic body, there is this one piece of solidified blood that works as the window between the world within you and the spiritual semantics of the outside world. It's heart:- the strongest piece of meat in our body. Heart has two main functions; to pump blood and metaphorically to create inner speech.

Majority of us don't realize how dominant we're upon our body/action. Before deciding something, have you ever realized how vigorous your heart battling your nafs. Actually, the nature of human is pure <just like John Rosseau said in his book 'Discours el Loix'>. It is the environment that influences our act and manner. In this world, we're constantly being tested and tempted. 

My understanding about world is quite easy; it is like khuldi to us. Taboo.

The biggest mistake that humans always do is, they ignore, neglect the dominance to nafs. They reject the dominance and got washed up the torrent, endless current of lust. They let the lust overcome their consciousness, and end up being ungrateful, unsatisfied being. 

Consciousness is the answer to all problems. When you have that consciousness imbues your every act and every breath of life; you'll always capable of handling/hindering all evil and badness. Of course, we couldn't get 100% in not being evil, but at least it'll help. Seriously.

Being khalifah. What it means?

The best quotation recited during this program was by Pua Badariah Ismail, Master holder in Syari`ah Islam <kahh??>. She who looks too young for her age <she's almost to golden jubilee> said;
"Allah itu Maha Sempurna. Semasa dia menciptakan manusia sebagai khalifah, Dia tidak silap. Dan semasa dia memilih kamu untuk menjadi- menurut Iqhbal- pegawai-Nya, Dia juga tidak silap."
I was like thunderstruck. It is from there, I thought as much of changing and be a real Muslim, real khalifah. But then, world's too beautiful to be overlooked <badass me>. 

<Alhamdulillah ... this is all that I want to tell you guys. Wait for another rant-ful blabbering, OK?>


Thursday, October 20, 2011

I Love Photoscape

Salaam. Have I ever told you guys how much I love 'Photoscape'? ... You can do almost a million modifications with it. I've been using it quite awhile, and so far, I'm totally satisfied with its performance. Kudos to 'Photoscape' creator. Here's a several photos which I have edited using the said software. Now, judge as you will

Wednesday, October 19, 2011

Kesia-siaan

Tunggu, yah!
Salaam. Kita berhenti rehat dulu dari sekuel kedua '20 Ciri Lelaki Ubërseksual', yah! Dengar dulu bisik hati saya <sengaja saya tulis bold>.



Alhamdulillah... beberapa hari ini, saya diuji dan diuji lagi. Saya sudah masak dengan kerenah hidup neh, saya kira. Didikan ayah ibu dan panduan Al-Qur`an yang berterusan meneguhkan pendirian saya, menjadi aset kebangkitan. Dugaan baru-baru ini saya rasakan amat berat. Huh~

Anak saudara...
Kadang-kadang, saya rasa mustahil juga untuk bertahan dengan sepak terajang minda dari orang lain ke saya. Yang diperlekeh itu bukan zahir, melainkan jiwa dan prinsip saya. Ndapalah, semoga Allah menyedarkan orang-orang sedemikian.

Saya selalu bertanya kepada diri, kenapa terlalu takut untuk berhadap semuka dengan orang yang engkau ada konflik... kenapa saya terlalu pengecut untuk cuba mencungkil kemungkinan yang sudah terang-terang terhidang peluangnya di depan mata. Sebenarnya, kamu tidak akan faham. Kamu tidak lalui apa yang saya terpaksa lalui untuk terus menjadi manusia.

Saya- seperti yang kamu tahu, adalah manusia hiper-sensitif dan sangat tidak ekspresif <melainkan di dalam blog>. Saya hanya tahu menangis dan menangis di dalam kamar sendirian, dan bila orang mengetuk pintu bilik, saya cepat-cepat lap air mata.


Kadang-kadang, saya rasa itu egoisme yang membendung diri dari memperkatakan apa yang patut saya perkatakan. Kalaulah kamu tahu betapa perit saya bunuh diri saya berulangan kali, menghijab realiti dengan jerit kehendak hati- pasti kamu turut menangis. Saudara sekelas, Arif pernah nasihat,
 "Kalau kau mampu lepasi semua tu, bukan maksudnya kau malang. Maksudnya kau sangat kuat. Kalau aku di tempat kau, mungkin aku dah takde dah!"
Nasib baik ada kawan-kawan yang membantu saya mengharungi hidup.

Saudara, terima kasih atas motivasi. Tapi itupun belum cukup untuk menghentikan tangisan saya bila terkenangkan betapa bertuahnya orang sekeliling dengan kemewahan serta kehebatan mereka. Betapa saya terbeban sangat-sangat dengan rasa cemburu sebagai manusia yang punya banyak cia-cita; Saya tabahkan ini juga. Namun umpama empangan, kadang-kadang air mata akan berderai juga. 

Saya selalu pujuk diri untuk tidak mengeluh, kerana mengeluh itu tandanya tiada kesyukuran. Mengeluh itu tanda kita lemah mengalah. Tidak mungkin ahsani takwiim seperti saya <dan kamu semua>boleh dikalahkan dengan kehendak membuta. Bil saya fikir balik semua ni, saya cepat-cepat lap air mata. Saya bisik, 
"Bukan ini caranya!"
Tadi pagi, saya bentak lagi diri sebab saya sudah mensia-siakan sesuatu yang sangat bernilai. Atas memoribilia tiga tahun lepas, saya undur setapak kebelakang dan amalkan prinsip orang `Arab, yakni 'berikan kepada mereka yang lebih mahu dan lebih layak' Saya hanya mampu melihat ianya berundur dengan wajah marah disia-siakan. Menjauh dari saya.

OK-lah

Maafkan saya ya, kawan. Sebab kamu terpaksa mendengar kesia-siaan ini. Hidupilah hidup kamu, bernafaslah dengan ceria. Jangan jadi seperti saya yang menyerahkan diri pada kelemahan dan akhirnya hilang arah tuju. Wassalam...


Tuesday, October 11, 2011

Sorry Friends


Salaam to all.

Too hard to say "I am sorry"

Guys, understand this: I'm an egoistic person. Seldom I sacrificed my egotism and begged one's pardon when I did mistakes. I always see myself as someone who thinks his ideas are all perfect. I can be easily enraged with other's wonderful achievements. It hurts me a lot when my ideas are rejected. I hate that feeling of uselessness, and thus always  pathetically praise myself, "Sven, the truth is with you".

It's hard to brush off this habit, you know. It had become a part of me; seriously. That's why if you observed me carefully (D'LOL. Who would have done such wasteful activity?) during any argument or debate, I'll defend my personal view about the discussed matter (but without sacrificing my rationale)(Well, sometimes).

So...

So in this very entry, allow me to make a change on that. I just wanna say sorry for all those bad things I said/did to/about you guys. Reading back all the posts, I know I have hurt so many people. It's just that... I was trying to be fully 'Yassin'.

And one more thing, I don't want to see anyone going astray. I love you guys, and for that; I always give criticism and advise. Though my method is less effective as compared to face-to-face method. 

Poyo?? Heh. At least I have the guts to say what I wanna say.

I guess, that action has its negative effects. For instance, I slain others' feelings and making others feeling guilty. I was only making attempts in order to find what image suited me the most. Serious? Cheerful? Funneh? Pathetic? 

Well, I still don't know what should I be. Seriously.

Sorry Friends


Salaam to all.

Too hard to say "I am sorry"

Guys, understand this: I'm an egoistic person. Seldom I sacrificed my egotism and begged one's pardon when I did mistakes. I always see myself as someone who thinks his ideas are all perfect. I can be easily enraged with other's wonderful achievements. It hurts me a lot when my ideas are rejected. I hate that feeling of uselessness, and thus always  pathetically praise myself, "Sven, the truth is with you".

It's hard to brush off this habit, you know. It had become my a part of me; seriously That's why if you observed me carefully (D'LOL. Who would have done such wasteful activity?) during any argument or debate, I'll defend my personal view about the discussed matter (but without sacrificing my rationale)(Well, sometimes).

So...

So in this very entry, allow me to make a change on that. I just wanna say sorry for all those bad things I said/did to/about you guys. Reading back all the posts, I know I have hurt so many people. It's just that... I was trying to be fully 'Yassin'.

And one more thing, I don't want to see anyone going astray. I love you guys, and for that; I always give criticism and advise. Though my method is less effective as compared to face-to-face method. 

Poyo?? Heh. At least I have the guts to say what I wanna say.

I guess, that action has its negative effects. For instance, I slain others' feelings and making others feeling guilty. I was only making attempts in order to find what image suited me the most. Serious? Cheerful? Funneh? Pathetic? 

Well, I still don't know what should I be. Seriously.

Monday, October 10, 2011

Hidup Penuh Kejutan

My tribute to Steve Jobs. Apple will no longer be as exciting as when you were around.

Salaam semua. Semoga ibu-ibu dan bapak-bapak sihat-sihat aja gitu, donk!

Apakah??

Hari ni, dua surprises paling WIN-lah saya bilang. Ada dua ujian yang susahnya... indescribable. Ujian Kimia boleh-boleh lagi bhaa jawab. Soalannya: apakah kepentingan dan keadaan ozon dan penerangan secara ringkas tindak balas ozon dengan prop-1-ene. Nennek susah, tapi dapat jugaklah. Alhamdulillah...

The second quiz... this is what really tackled me till I smacked my face on the ground. Nampak soalan pertama jaa, terus blank maut. Soalan, "Sebutkan jenis kacukan yang digunakan untuk mengenal pasti genotip bagi alel yang homozigus".

And I was like, "Buckshot." Mau jaa saya jawab, "Entah, kacukan Pranakan kot?"

Siapakah??

Saya sudah jugak check kumpulan MUET tadik, semasa pulang dari sejam <kuiz> yang menyiksakan itu. Yet, another surprise: all my teammates are TESL-ians, and to add to that: two of them are senior.Senior TESL-ians. GoshGoshGoshGoshGosh~ it's gonna be a bumpy road.

But then, I take it positively. I mean, it'd be better if I consider this as a challenge, and not as a burden or something to that effect (gWaHaHaHa. You're dead meat, Yassin. Dead meat).

Kenapakah??

Tolonglah, stop making random assumptions. Should ya have any doubt and unverified rumor about me, jumpa depan-depan. Tanya. And if I answer it with a darn serious face, it means I am serious. 

Sunday, October 2, 2011

Eksodus (II)

Seorang pelajar perempuan bingkas bangun apabila mendengarkan sahaja kata-kata Steve Job itu tadi. Entahlah apa perasaan yang mendorongnya, namun dia sangat ingin meluahkan rasa. 
"I'm not quite agree with what that mat salleh said about living someone else's life. Because for you information, I'm living someone else's life, and I have no problem with it. Why? It is a personal matter..." 
-Konvensyen Guru-Guru Muda (KOGUM), 2011.
Salaam. Fuhh, ingatkan sudah siap semua kerja. Sekali dibelek balik senarai, ada satu lagi rupanya- maksud saya, dua. Ceramah dan kertas kerja ceramah tu. Tajuk gah gila, entahlah bolehkah saya sampaikan dengan betul. Ahh, layan blog dulu bha (beginilah baru gengster...)(habislah esok).

Frankly, this is not my house Tapi saya tetap rindu rumah saya, biarpun rumah saya ndak secantik ini.

Menanggung amanah keluarga

Percaya atau tidak, sayalah yang kedua dalam keseluruhan keluarga saya yang pernah menjejakkan kaki ke Tanah Melayu, selepas ibu saya. Kenyataan ini dianggap sebagai suatu junjungan keluarga yang agung. Sentimen di Sabah begitulah; siapa yang berjaya melanjutkan pelajaran ke Semenanjung, tambahan lagi KL, maka dianggap berjaya. 

Apabila begitu, keluarga saya meletakkan suatu bebanan amanah yang berat ke atas bahu saya. Walaupun mereka tidak pernah memaksa (saya yang rela) saya untuk melakukan ini, rasa tidak enak akan bersarang apabila aspirasi keluarga tidak tercapai. Saya tidak suka bila terpaksa mengecewakan orang yang saya sayangi.

Sebelum tu, saya bercita-cita untuk melanjutkan pelajaran dalam bidang Sains Sosial di Australia dengan mengharapkan tajaan MARA. Tidak dapat, and I was shocked. But then, as I re-thought about it; I whispered to myself, "Yassin, your life won't over if your don't get the offer". Well, somehow I managed to overcome the utter disappointment.

Alternatif lain

Selain Sains Sosial, saya juga meminati Kejuruteraan Sivil, Georfai dan macam tertarik mau jadi pustakawan. Seriously. It took me nearly a couple months before I made my decision. Dengan preskripsi ibu ayah, kakak and mostly me, I filled in the SPA application in Geology, Archaeology and Engineering. Gosh.

Lepas tu, ibu suruh isi borang maktab and to my filial, I did. Akan tetapi, saya tidak mengharapkan permohonan saya diterima sebab excited mau ambil Diploma SPA dalam Geologi. Jadi pembantu pegawai geologi pun, jadilah. Sadly, I got that maktab-thingy~

*self-slapping* Appreciate, Yassin. Appreciate!

FYI, saya dapat jugak matrikulasi, Sains Hayatkah (entah, ndak ingat). Tapi saya tidak pergi:- cool people do not go to such places! (saya dengar dengusan. Jangan sakit hati, matrikulasi-ans... terimalah kamu tidak cool). Uhm. Actually, I didn't quite remember this part. Move on.

Masa temuduga, sayalah manusia paling hiperak- salah, paling gigaaktif bersoal-jawab. Ngoll...

Amiinn... semoga dapatlah menjadi barang dalam gambar.
HaHaHaHa. Sangat lucu, but I did. Masa temuduga tu, saya dan lima lelaki lain dimasukkan di dalam sebuah bilik berpendingin hawa dan diberi sekeping kertas. Sebatang pen dihulurkan kepada setiap seorang. Silly tajuk perbincangan: peperangan.

Kami diberi seminit dua untuk menyenaraikan point, dan lepas tu, mamat di sebelah kanan saya mula. Bapak, cara dia bercakap macam pensyarah (okay, I made it up. Bukan macam pensyarah). Yeah, but so close to it. Dalam hati saya kata: "Shuuh, keluar kau... kau sudah confirm dapat". HaHaHaHa (okay, I made that up, too).

Masa saya bercakap: entah bagaimana semangat berkobar-kobar. Deep down 10,000 leagues under, I knew it was my parents' prayers that caused me to behave so. Masa temuduga tu, diorang sedang menunggu di dalam kereta, di bawah matahari. Oh gosh, saya rasa macam mau menangis bila teringatkan masa ni. Baru saya terfikir.

Lepas tu, temuduga sendiri: I was quite cool. Tajuk PPSMI di Malaysia dan perbandingannya dengan masharakat Jepun. Ambik engkau! Nasib baiklah ibu suruh bua preparation untuk tu awal-awal. Kurang sikit nervous. 

The best part pasal temuduga tu...

Dulu pernah fobia dengannya.
I met many friends (I even met my old, genius friend: Ismail Lapagang. Tell you, he is the most genius-est [to emphasize indefinitely] person I have ever encountered. Mengalahkan kawan saya yang dihantar di Rusia tu [LOL, kalau terasa, sorry]. Seriously, si Mail ni, kalau apply doktor, senang-senang jaa pass. Baru-baru ni, pointer semester dia 3.67. DEVILL!! [okay, jum keluar dari bracket]). *Bernafas* lebih selesa, di luar ni. Ahh, sambung!

Selain jumpa Ismail dan Rusdiansyah, perkara yang paling saya akan ingat adalah apabila ibu surh bawa senarai Menteri Kabinet Malaysia. HaHaHaHa-- yalah, beliau kan senior dalam hal perguruan ni (beliau sudah berkecimpung dalam bidang ni selama 18 tahun, tahu?). So, I did not question much about the significance of her action. I just go with the music.

Walaupun benda tu tidak termasuk dalam mana-mana slot temuduga, I'd say that it probably had influence towards my interview result. Imagine this; you are the interviewer and you see a candidate brings along that thing with clowns' faces on it. Sudah pastilah hati kau akan kata, "Wahh, budak ni betul-betul serius dalam memilih kerjaya guru. Sampai bawa senarai Menteri Kabinet segala". HaHaHaHa.

HaHaHaHa.... senarai yang saya bawa masa interview  buaknlah macam ni, dalam bentuk perkataan jaa.
Thanks ibu and ayah, and my fellow naughty siblings. Dan paling berterima kasihlah kepada Allah SWT. Kerana memberikan saya peluang untuk menjadi pendidik. Ini kerja nabi tau, bukan semua boleh jadi.

Untuk ibu, ayah; walaupun di sini aku main-main jaa kerja, tiada belajar dan tiada persediaan; I'll do my best. Aku akan buktikan bahawa aku anak Linda Arellano dan Mohd Yunus Abdul Hamit.

Saturday, October 1, 2011

Eksodus (I)

Seorang mufti `Arab menangis apabila ditanyakan sebuah soalan oleh seorang pemuda Somalia.Soalannya:  
"Adakah sah puasa kami yang tidak bersahur dan tidak berbuka?".
-petikan Facebook status seorang saudari
Salaam... ugh. (Tarik nafas, dalam-dalam. Ini perlu).

Sudah dekat 17 bulan saya menjadi penuntut di Institut Pendidikan Guru Teknik, rupanya. Bila selak-selak balik keseluruhan diri saya, sudah terlalu banyak saya berubah. In other words; I have lost so much of myself.

16 Jun 2010 itu, adalah titik mula pencarian

Saya ingat lagi tarikh keramat ni. Masa tu, saya tinggal bersama seorang mak saudara saya yang memang sudah tinggal lama di KL (beliau berhijrah ke sini lebih sepuluh tahun dulu demi mencari rezeki. Paling tidakpun, mencari diri-sendiri). Saya menumpang tinggal dengan beliau sehari kerana penerbangan ke KL masa tu, tanggal 14 Jun, subuh. Jadinya, hidup serumah buat sehari dan berbelanja sakan untuk persediaan di kolej kediaman maktab. Seronok bila dapat ketemu orang yang hanya wujud melalui penceritaan ibu, apalagi orang itu murah hati.

Apapun, itulah pertama kali saya hidup bukan senegeri dengan keluarga. Rasanya bercampur: seronok sebab dapat belajar budaya baru, dan; takut, sebab takut terpengaruh dengan keganasan sosial di sini. Saya panjatkan syukur jugalah, karena dalam beratus ribu memohon (batch saya jaa, 109 ribu pemohon maktab), saya yang terpilih. Walaupun saya sedar, ada ribuan yang lagi di luar sana yang layak dan memerlukan peluang ini, saya suka juga leka. Teruskan bacaan.

Setelah 17 bulan 15 hari menjadi guru pelatih...
Saya tidak pasti jika saya seorang jaa di maktab ini, yang berasa begini. Terkontang-kanting.

Banyak sudah berubah dalam diri saya. Serius. Pertama, fizikal semakin membesar (yakah?? Sebab keluarga kata saya makin kurus dT.Tb), dikarenakan saya menelan suapan Kerajaan berupa elaun. Sebulan RM430.00, siapa yang tidak makmur badannya bila dapat begini. Inilah yang selalu buat saya rasa bersyukur dan bersalah. Di Somalia sana, sudahlah tiada pendidikan percuma, yang dimakan pun lumpur. Tapi semangat untuk hidup mereka paling tinggilah dari saya. Saya??

Keduanya, dan yang paling utama adalah perubahan minda. Kematangan diri, saya rasa semakin meningkat dan keyakinan juga begitu. Honestly, saya adalah pelajar paling pemalu di MRSM dulu dalam bab-bab memberi pendapat. Tanyalah El Hafiz atau Wawan Chacho. Mereka rakan terbaik saya dan mereka pasti nampak. Eksodus minda saya banyak, sebenarnya. Tetapi lebih banyak untuk diperbaharui.

Bertemu masharakat baharu/budaya baharu/dinul hayat yang baru, saya...

...baru tau rupanya ada benda di Malaysia ini yang bernama 'shisha'. Rupanya KTM itu gunakan kad dan rupanya Alamanda di Putrajaya. Sudah menjejakkan kaki ke sini, baru saya sedar betapa kecilnya Tawau: dunia saya dahulu. Subhanallah~

Sungguh sosial di sini jauh bezanya dengan di Tawau. Maksud saya, dari segi intensitinya. Kecurian, pembunuhan, penculikan, dsb.; semuanya membawa makna hidup baru buat saya. Cuba juga untuk menjadi resistan, cuba bersifa konservatif dengan segala tentangan serta cabaran ini- I failed.

Rupanya, di sebalik topeng konservatif itu (ini), saya sudah banyak berubah. Jauh lebih banyak dari bahagian diri saya yang masih kekal. And it is here I learned that in order to survive, you do not have to fight against, nor be conservative. You just have to be versatile and adaptable. Maintaining the 'old' while making the 'new' you. 

Maksud
Kamu semua mesti (pernah/sedang/telah) tertanya-tanya kenapa saya namakan halaman blog ini sebagai 'akusvenpencarikebenaran2.blogspot.com', kan? It's a rather long story which I can put into six words. I whisper:
"I am searching my truest being..."
Ya. Seperti mak cik saya yang melakukan eksodusnya mencari kehidupan, saya melakukan eksodus untuk mencari diri-sendiri. Itupun, kalau adalah.

Thursday, September 29, 2011

Terbilang [Exceptional]

"Untuk orang lain sedar betapa beratnya tanggungjawab kita, kita perlu sedar betapa beratnya tanggungjawab orang lain."  
-Puan Nor`azah
Salaam. Adihh... tengah  pening kepala menulis rencana Bahasa Melayu, datang pula petikan Puan Nor`azah dengan tiba-tiba. Memang beliau seorang yang benar-benar mencintai dan berasa bangga dengan pekerjaan beliau sebagai pendidik. Orang kata (orang katalah), jika kita letakkan obsesi pada kerja dengan komitmen yang mendalam, karisma pasti akan datang pada kita (karisma: kemahiran membujuk; menarik perhatian).

Masa kami berdiskusi tentang permuafakatan komuniti sekolah, saya sibuk berfikir tentang bagaimana ahli komuniti yang kumpulan saya wakili:- PIBG, mampu merapatkan jurang beza antara kesemua ahli komuniti sekolah itu sendiri. Wuhuu~macam di universiti neh saya rasa, tahap kematangan dan pemikiran nampak di sana. And I whispered: kenapalah dorang ndak macam begini selalu di kelas?

Antara ramai-ramai penyampai tu, saya suka tiga orang penyampai yang pemikiran mereka sangat tinggi. Nda sangka (sangkalah, tapi ndalah setinggi tadi pagi). Kagum gila dengan dorang and tribute for their words will be written here.

i. Nadiah
"Sebagai komuniti, setiap murid perlu dilihat macam anak sendirilah. Bukan macam kalau anak orang lain buat kacau, pedulilah; anaknya, anaknyalah..."
Antara ramai-ramai, beliaulah (wahahah, beliau [menunjukkan senioriti hidup di dunia, OK? Got nothing to do with age ][well, actually there's a bit about age]). Pemikirannya sangat jelas, mudah dan jernih. Tiada perlu belok ke kiri dan ke kanan dan tidak berselindung di sebalik retorik/indah kata-kata. She says what her head wanna say, I think.

Apa yang paling saya kagumi dengan ini gal adalah kebolehannya menggunakan pelajaran dari pengalaman lepas sebagai jawaban kepada persoalan saya. Ortodoks. Macam contoh: saya pernah cerita dengan dia melalui blog ini, kesangapan saya berdepan pensyarah untuk bersajak. Dia reply dengan entri ini. Dia pernah juga cakap, "Saya juga macam kau", cuba menyamakan dia dengan saya.

Matter-of-fact: mengikut usia, tahap pemikirannya akan sentiasa setahun lebih matang dari dia. And I love her posts, too. Sangat ikhlas.

ii. Ardie
"Kami (sekolah) tidak boleh melakukan semuanya. Di luar sekolah contohnya, kami sangat mengharapkan agar masyarakat luar membantu kami menyelesaikan masalah disiplin. Peranan masyarakat seperti yang telah dibentangkan oleh pihak PIBG tadi adalah wajar..."
Dia ni adalah orang Bugis yang paling cool dan pragmatik pemikirannya (bhee~) selepas bapa saya. Peminat Ustad Das`at dan Syeikh Ahmed Deedat dan saya rasa dia punya kualiti seorang penghujah. Damn serious! Apabila dia bercakap untuk menyuarakan pendapat, jarang saya menggeleng. Saya sangat setuju.

Dia ada blog, dan saya menantikan penulisannya berkenaan kehidupan: mesti best dan satu lagi yang saya notice pasal budak ni adalah, dia ada 'sesuatu yang cuba keluar dari dirinya sekarang'. I'm not sure what and why, but I have always that kind of feeling whenever I got near him, or listening to his words.

iii. Zudien
"Kita semua ini ibarat tiang, tiang, tiang... yang mana kesemuanya memainkan peranan dalam membina kerjasama komuniti sekolah."
Macam Tuan Guru Nik Aziz. HeHeHeHe. Beliau adalah pengagum Tuan Guru dan untuk itu, kami kadang-kadang berbalah. Tapi ndapa bhaaa, perbalahan yang sihatlah melalui maya. Tapi di dunia sebenar, macam Tom & Jerry (saya Tom). Sangat rapat.

Beliau, boleh saya cakap simple macam begini: Islamik. Tindak-tanduk dan komitmen yang ditunjukkannya terhadap kerja, sahabat, tugasan dan amanah sebagai ketua kelas sangat-sangat menggambarkan peribadi Islam yang terpuji. Meskipun mempunyai sense of humor yang tinggi, dia ndak melampaui batas. 

I like it when he gets serious with work. Komited habess! Bila berbincang, average: namun impaknya ketara. Boleh jadi guru yang baik. Ada blog jugak, and I really hope that he can update it more frequently! (merenung dengan mata setajam Katana).

Itu jaalah bagi dia.

Kepada yang ndak termasuk dalam senarai, jangan risau. Ewi, Nerah dan Syahirah: kamu jugak the best. Betul kot apa orang kata: budak Sains paling cepat matang (OMG. does that mean, paling cepat tua?). Senarai di atas cumalah exceptional sedikit. Sedikit jaa...  

OKlah, rencana belum mula apapun. Habislah kalau terus begini.

Potret Di Midvalley

Salaam. 

Punyalah main bahagia ini hari, sebab kami habis kelas jam 10:00PM. Puan Mahani tiada, pensyarah semuanya ber-meeting-an lagi nanti petang. HEAVENNNNNNN~HaHaHaHa. Ni jaa yang saya mampu ungkap (harap-harap esok pun camni).

Sekejap lagi mau sambung buat rencana. Saya curi sedikit masa untuk mengepos sedikit lagi gambar yang diambil masa kami jalan tengok movie dengan Azwan itu hari. Diambil menggunakan kamera DSLR Ewi (Wii, thanks), kebanyakannya bertemakan potret. 

Kepada Azwan:

You are right. Saya terlalu cepat menghakimi kau, walaupun baru pertama kali jumpa face-to-face. Saya ndaboleh elak bha, tendency untuk melakukan first impression sama kau. It's the law of attraction, dude. Anyhow, kita adakan lebih kerap, perjumpaan sebegini. Boleh?

Amaran: 

Jangan ambil gambar sesuka hati. Ini hak peribadi orang ni, gambar ni. Minta kebenaran kepada si pemilik badan yang ada gambarnya di dalam gambar yang hendak diambil. Allah nampak, tau.

Sesak. Sangat sesak.
Personally, I like this picture the most.
I took this picture in Rasamas restaurant. Try to guess, what it is.
Cute-nya. Ini kipas saya jumpa masa hari terakhir kemerdekaan di Putrajaya. Masa tu, sudah mau naik bas, bila saya nampak ia tersadai di jalan raya. Saya kutip, tapi penutup baterinya pula jatuh. Suruh si Aizat jugaa ambil.
Melakukan perbincangan kritis terhadap juadah yang hendak dipilih.

Wednesday, September 28, 2011

Berjalan Di Midvalley...Lagi (Versi Gambar)



^P/S: Azwan....he's a lot un-talkative in the real life. So different from Azwan in Facebook.