Showing posts with label cyrilist's confession. Show all posts
Showing posts with label cyrilist's confession. Show all posts

Monday, October 31, 2011

Perisytiharan Gelaran Guru

Salaam. Waduh, waduh ... malas betul mau buka buku. Apalagi mau membaca dan memahami setiap baris kata dan erti bahasa. Bosan dan menyakitkan, bila teringat segala subjek, subtopik dan subsubtopik yang sudah lama tidak dibelek. Matilah saya <orang kata, budak aliran sains paling genius dan pintar dan rajin dan hebat dan kuat dan mantap dan NERD. Saya perlu akui itu dengan sejujurnya, tapi sisi gelap semua kelebihan itu mereka tidak nampak:- kami paling tertekan dengan major ni> Gahh. Kita beralih dari situ, menuju ke asalan entri.

Jangkaan terlalu tinggi

Kadang-kadang, jadi psiko dengan perangai dan ekspektasi masyarakat <kenapa bunyi terlalu matang??>.
16 Jun 2010... adalah waktu keramat yang sangat membekas di hati saya. Pada tanggal keramat ini, saya menyerahkan segenap pelusuk diri untuk menjadi guru, atau lebih baik; GURU. Tambahan lagi, terpaksa berdepan dengan subjek maha gila, sains. 

Seperti yang saya selorohkan di atas, prospek manusia sekeliling terhadap guru sains sangat tinggi <tidak faham kenapa ada subject-biased sebegini>. Bilamana kamu berjaya, dianggap normal. Tapi bilamana kamu gagal atau teruk dalam mana-mana subjek <walaupun subjek seremeh Bahasa Melayu Kontekstual>, langsung dilabel pemalas dan tidak belajar <baiklah, itu perlu diakui>. Tapi janganlah sampai melihat kami seperti ahli neraka yang dijamin. Rasa rimas.

Sebagai rubrik, sains bukanlah pasal praktikal dan teoretikal. Ia menjalar jauh daripada itu; pengertiannya, pengamalannya dalam kehidupan seharian dan kegunaannya <mau hujat subjek lain, tapi tidak payahlah. Lebih baik tonjolkan kebaikan diri-sendiri>. Bhaa.

Guru

Foto: Hazwan Zulkifli. Kamera: Razvi Musily. Suntingan: Sven <saja-saja jaa bha neh>.

Saya rasa, gelaran di atas umpama sebuah pakej hidup yang lengkap. Dalamnya, ada disertakan gari dan rotan sekali. Bukan untuk kita gunakan ke atas anak murid, tetapi akan kita gunakan terhadap diri-sendiri. menjadi guru, kita terdesak untuk menjadi teladan lantas terkurung dalam topeng adab susila. Dan seperti yang diungkapkan El Hafiz Jaini, manakan mungkin rutin tidak jadi keikhlasan?

Suka buat-buat komik macam ni. Rasa puas melayan sisi humoris saya yang tersembunyi.

Kadang-kadang, inilah yang saya bangga sangat dengan profesion keguruan <uhm, jangan terasa pejuang karier lain. Perspektif berbeza, kita kongsi bersama>. Selain menjadi pendidik manusia, kita didik diri-sendiri. Jadi baik, dan lawan entropi sikap manusia. Saya tidak berapa nampak nilai ini dalam kerjaya lain <sekali lagi: maaf>.

OK-lah, sekadar itu jaa untuk hari ini. Kalau saya rajin, saya tulis lagi. Persoalan sama ada dibaca atau tidak, kita tolak tepi. Siapa tahu, dua puluh tahun akan datang seseorang tersesat memilih kerjaya? Entri ini mungkin dapat membantu mereka.

Heyy, saya tidak belajarlah hari neh. Waah~ <matilah bakal guru yang satu ini>.

Saturday, October 29, 2011

Fighting My Own Definition

Salaam and good night 

I'd say; let us kick start my very attempt of shifting sides <out of many to come> by doing a little bit of reflection, or, more like a warm-up about my life a few years back. Now, I'm not going to tell each second with full details, merely I'll try to extract the lessons, preferably; the main points out of it. So here we go

As a human, we should measure our richness via our effort and not other's luxury

It always happen to me when I ponder long upon myself and all the absences that I posses. Not that I am ungrateful, it's just, sometimes, the urge of having a fine -- if not dainty -- life is too strong to be waded. I cry, at times whence seeing my friends having their life with fine clothing and glossy, stylish shoes. Me? A two years old T-shirt, a humongous pant and big rubber slipper <which costed me RM6.00> or a worn-out shoes are my daily fancy.

Glancing on my table, there's no hi-tech gizmos and gadgetry, no half a grand earphone, no printer; nothing. But a netbook which I got as a free additional package upon TM-Net installation. I have quite a phone, but still, looks old and plain and way out-of-date. So archaic and I guess, if I could somehow give it to a curator, he would put in the museum LOL.

But wait! To what did I compare myself to? 

This question; this is what has always keep an eye to my every life expectation. Every time I failed to fully understand God's Justice, this question will unerringly yet, in ironical sense; unfailingly answer. I always in the end of the day, admit that all these hardships happen because I failed to be grateful and be who I should be OR because of the fact that I have no exact effort to change it into a much nobler level.

God never failed and never get anything wrong. 

Looking up again, I know I missed something that God designed me to understand and discover. So as I was destined to turn Islam, I found that, richness is mirage and thus subjective to judgment, abstract to appreciation. I would then curse myself of being too judgmental and comparative in life. And sooner, I'll learn  the real meaning of the saying, who has eaten of the pot knows the taste of the broth.

Nobody should be nobody.